Su’dah bintu ‘Auf rodhiyallaahu ‘anha, istri dari sahabat mulia Sa’ad bin Abi Waqqosh… Suatu hari suaminya masuk ke rumah dengan wajah yang...
Su’dah bintu ‘Auf rodhiyallaahu ‘anha, istri dari sahabat mulia Sa’ad bin Abi Waqqosh…
Suatu hari suaminya masuk ke rumah dengan wajah yang sedih dan bermuram durja, kemudian dia bertanya kepada suaminya, “Ada apa gerangan wahai suamiku, aku melihat wajahmu sedih dan bermuram durja, ceritakanlah kepadaku masalahmu agar aku bisa meringankannya dan membantumu?”
(inilah istri teladan, tapi istri akhir zaman suaminya pulang kerja letih ada beban, dia langsung nyerocos, “kita belum beli ini, ini habis, itu habis, kita butuh ini, kita butuh itu”. Sedangkan istri Sa’ad bin abi Waqqosh mengetahui kapan suaminya sedih, bukan ditambahnya kesedihannya, tapi menghiburnya, dan berusaha membantunya)
Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata dengan indah dan manis, “Tidak mengapa istriku, engkau adalah sebaik-baik kekasih bagi seorang muslim.” dipujinya istrinya…
Istrinya kembali bertanya, “Lalu ada apakah suamiku?”
Sa’ad berkata, “Hartaku semakin banyak dan menumpuk, aku takut dengan tanggung jawabnya yang berat dan besar.”
(apakah istrinya menanggapi, “OOoo gampang! kita kan belum punya ini, belum punya itu, beli mobil aja, rumah kita aja diperbesar, dll?? TIDAK!!)
Su’dah bintu ‘Auf berkata, “Tidak mengapa wahai suamiku, kalau begitu bagikan/sedekahkan saja harta itu.”
(subhanallaah, istri yang memotivasi suaminya untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan ketaqwaan.)
Dan mereka berdua; Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Su’dah bintu ‘Auf membagi-bagikan harta itu sampai waktu sahur…..bahkan sampai tidak tersisa 1 dirham pun….
Suatu hari suaminya masuk ke rumah dengan wajah yang sedih dan bermuram durja, kemudian dia bertanya kepada suaminya, “Ada apa gerangan wahai suamiku, aku melihat wajahmu sedih dan bermuram durja, ceritakanlah kepadaku masalahmu agar aku bisa meringankannya dan membantumu?”
(inilah istri teladan, tapi istri akhir zaman suaminya pulang kerja letih ada beban, dia langsung nyerocos, “kita belum beli ini, ini habis, itu habis, kita butuh ini, kita butuh itu”. Sedangkan istri Sa’ad bin abi Waqqosh mengetahui kapan suaminya sedih, bukan ditambahnya kesedihannya, tapi menghiburnya, dan berusaha membantunya)
Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata dengan indah dan manis, “Tidak mengapa istriku, engkau adalah sebaik-baik kekasih bagi seorang muslim.” dipujinya istrinya…
Istrinya kembali bertanya, “Lalu ada apakah suamiku?”
Sa’ad berkata, “Hartaku semakin banyak dan menumpuk, aku takut dengan tanggung jawabnya yang berat dan besar.”
(apakah istrinya menanggapi, “OOoo gampang! kita kan belum punya ini, belum punya itu, beli mobil aja, rumah kita aja diperbesar, dll?? TIDAK!!)
Su’dah bintu ‘Auf berkata, “Tidak mengapa wahai suamiku, kalau begitu bagikan/sedekahkan saja harta itu.”
(subhanallaah, istri yang memotivasi suaminya untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan ketaqwaan.)
Dan mereka berdua; Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Su’dah bintu ‘Auf membagi-bagikan harta itu sampai waktu sahur…..bahkan sampai tidak tersisa 1 dirham pun….

COMMENTS