Kabar Semesta - “Bangsa yang besar adalah yang bias menghargai para pahlawannya.” Slogan orang Indonesia Orang yang cerdas dan sensi...
Kabar Semesta - “Bangsa yang besar adalah yang bias menghargai para pahlawannya.” Slogan orang Indonesia
Orang yang cerdas dan sensitive akan mampu berempati dan menghargai terhadap nilai prestasi. Seperti seorang sahabat Nabi, Julaibib namanya. Ia tidak terkenal. Ia lelaki miskin papa, tak berpunya, tak berkedudukan dan tidak diketahui nasabnya. Atribut kemiskinan lebih akrab dengannya. Saking miskinnya keinginan menikah pun pupus darinya. Di balik kemiskinannya ia rajin berdzikir, tak pernah absen dari shaf pertama dalan shalat berjamaah dan aktif dalam berbagai medan pertempuran.
Suatu hari ia melintas dihadapan Nabi. Nabi menyapa akrab seraya bertanya, “Hai Julaibib, kamu tidak ingin menikah?” Ia pun menjawab, “Wahai Rasululloh, siapa yang mau menikah denganku yang tak punya harta maupun kedudukan.” Berkali-kali Nabi menanyai hal itu dalam berbagai kesempatan. Hingga suatu saat ia diutus menemui sebuah keluarga untuk meminang putri keluarga tersebut menjadi istrinya. Ayah sang gadis tak berkenan menerima pinangannya. Mendengar penolakan orang tuanya terhadap sahabat yang dipercaya Nabi untuk meminangnya, maka sang gadis berkata kepada orang tuanya, “Pantaskah ayah dan ibu menolak permintaan Rasul? Tidak demi Allah ang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya.” Akhirnya diterimaah pinangan itu dan terwujudlah rumah tangga yang dibangun diatas landasan taqwa dan ridha-Nya.
Seruan jihad pun berkumandang. Julaibib ikut aktif dalam peperangan dan berhasil membunuh tujuh orang kafir sebelun ia sendiri syahid di jalan Allah. Rasul memeriksa nama-nama sahabat yang gugur dan para sahabat melaporkan nama-nama mereka. Tetapi mereka lupa kepada Julaibib sehingga tidak disebutkan dihadapan Nabi, sebab ia bukan orang terpandang apalagi terkenal.
Namun sebaliknya, rasululloh ingat julaibib, sama sekali tidak melupakannya. Beliau tetap ingat, namanya lekat dalam benaknya. “Tapi aku merasa kehilangan Julaibib,” kata Nabi. Akhirnya beliau menemukan jenazzah Julaibib dalam keadaan tertutup pasir. Lalu baliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda, “Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan akupun termasuk golonganmu.”
Begitulah cara Nabi menghargai prestasi. Bukan pada harta atau kedudukan, tapi lebih dari pada iman dan pengorbanan. Pada prestasi dan kemampuan melejitkan diri. Soal dikenal atau tidak, itu rahasia Allah Rabbul Izzati. Maka, bekerjalah dan teruslah berprestasi hingga maut menghampiri. Pahlawan sejati bukanlah koektor atribut duniawi, hanya keridhaan Allah yang dicari. Al Qur’an menegaskan, “Dan bekerjalah, maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu….” (QS. At-Taubah : 105)
Sumber : Zero to Hero
