Kabar Semesta - “Cukup SMS : ketik NAMA (spasi) JENIS MAKANAN (spasi) JAM DIANTAR kirim ke 08x xxx xxx xxx, makanan siap tersajikan,” dem...
Kabar Semesta - “Cukup SMS : ketik NAMA (spasi) JENIS MAKANAN (spasi) JAM
DIANTAR kirim ke 08x xxx xxx xxx, makanan siap tersajikan,” demikian salah satu
bunyi spanduk yang berada di daerah kampus Universitas Diponegoro, Semarang.
Apakah pemilik usaha ini memiliki warung makan? Ternyata tidak, dia tidak
memiliki warung makan tetapi mampu menyediakan berbagai jenis makanan , mulai
dari nasi rames, penyet, nasi goring, mie ayam, bakso, dan sebagainya. Apakah
pemiliknya berasal dari keluarga pengusaha, berduit banyak?
Justru kebalikannya. Bermodalkan HP, sebuah sepeda motor
dengan kotak penyimpanan pesanan dan selebaran pamphlet, Bejo Sugianto memulai
bisnis Carry Delivery-nyab( sebuah bisnis jasa pemesanan makanan). Sepeda motor
itu pun bukan miliknya sendiri, tiap bulan dia membayar uang sewa. Walaupun
baru setengah tahun dijalankan secara lebih serius, dia sudah meggaji seorang
karyawan dan merencanakan pembukaan cabang di beberapa tempat.
Lahir dari keluarga pas-pasan, bermodal nekad demi
mewujudkan impiannya untuk kuliah, menjadi seorang direktur, hingga membangun
sekolah bisnis untuk anak-anak dikampungnya. “Orang-orang yang benar-benar siap
gagal , dialah orang yang benar-benar
siap menjadi orang sukses,” demikian semangatnya.
Saat para mahasiswa berkutat dengan buku-buku dan tidur
siang, menjadi tukang cuci piring dilakoninya. Saat mahasiswa di depan laptop
mengerjakan tugas di malam hari , dia harus membagi waktunya untuk berjualan
roti bakar. Ketika rekannya sesame mahasiswa pergi ke ATM untuk mengambil
kiriman orangtuanya, dia mesti memutar otak bagaimana cara membiayai kuliah dan
kehidupannya sehari-hari.
Perasaan malu dan keluhan ditahannya sebagaimana pesan
ayahnya, “Lakukanlah hal-hal kecil karena Allah Maha besar, bias jadi Allah
memberikan hal-hal besar dari hal-hal kecil yang engkau lakukan.” Jualan donat
dilakoninya sembari kuliah, jualan nasi dari kos satu ke kos lain bukanlah hal
tabu baginya. Dia meyakini tempaan hidup yang dijalaninya sekarang ini merupakan
tahapan menuju mimpi besarnya menjadi direktur. Belajar dan terus belajar,
itulah yang dilakukannya. Keyakinan akan potensi yang Allah berikan mengalahkan
kekerdilan jiwa dan keterbatasan sarana yang dimilikinya.