Kabar Semesta - Orangtua memang menentukan perkembangan seseorang. Berbagai pandangan psikologi dan riset telah membuktikan hal ini. J...
Kabar Semesta - Orangtua memang menentukan perkembangan seseorang. Berbagai pandangan psikologi dan riset telah membuktikan hal ini. Jika diperhatikan secara seksama, berbagai gangguan kesehatan terutama psikologis penyebabnya bias dirunut dari keluarga. Perlakuan janin dalam kandungan misalnya, akan berpengaruh terhadap sifat-sifat yang dimiliki setelah dia lahir. Bahkan dengan suatu teknik psikologi, bias dirunut penyebab gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada bulan-bulan awal kehamilan (usia tiga bulan kehamilan).
Dalam ilmu psikologi juga dikatakan bahwa ibu dan ayah
memiliki peran masing-masing yang signifikan terhadap perkembangan anak. Peran
keduanya sama-sama memengaruhi perkembangan intelektual dengan cara yang
berbeda. Seorang ibu membantu perkembangan intelektual anak melalui perhatian
dan bahasa, sedangkan ayah membantu perkembangan intelektual anaknya memalui
sikap sebagi teman. Ayah banyak mengajarkan anak kemandirian dengan memberikan
kepercayaan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.
Bagaimana dengan ketidak hadiran ayah dalam pengasuhan?
Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan
menjadikan anak-anak lamban dalam menanggapi keinginan dan kebutuhan, sering
melanggar peraturan, dan prestasi yang rendah. Walaupun ketidakhadiran yang
dimaksud bukan perceraian atau meninggal, tetapi kurangnya perhatian ayah
terhadap pengasuhan ternyata berpengaruh besar dalam potensi anak. Barangkali
itulah hikmahnya Allah membolehkan perceraian tetapi sekaligus Allah membenci
perceraian.
Betapapun demikian, bukan berarti ketiadaan orangtua sejak
kecil menjadikan penderitaan bagi seseorang. Ketiadaan bimbingan orang tua
sejak kecil tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk menyalahkan Allah. Banyak
contoh mereka yang tidak berjumpa dengan orangtuanya sejak kecil namun mereka menjadi
orang yang berhasil.
Ada B.J. Habibie yang harus hidup tanpa bimbingan ayahnya
sejak berusia 14 tahun. Ibundanya tercinta menyemangatinya dan bertekad untuk
menyekolahkan anaknya keluar negeri. Kita bias melihat bagaimana Habibie di
kemudian hari.
Bahakan Rasululloh Saw pun tidak pernah menjumpai ayah
tercinta, karena ayahnya meninggal dalam suatu perjalanan pulang berdagang.
Disususl kemudian ibunda tercinta ketika usia beliau 5 tahun. Berturut-turut
diasuh oleh kakek beliau dan terakhir paman beliau.
Senantiasa ada hikmah dibalik peristiwa. “Semakain tinggi
pohon, semakin kencan angina yang menerpanya.” Sepertinya, mereka yang
dianugrahi menjadi orang besar terbiasa hidup dengan penuh cobaab sebekum
akhirnya meraih keberhasilan. Seperti i=ujian kelayakan sebelum mahkota
kebesaran dianugerahkan.
Sumber : Master from Minder
