Kabar Semesta - “Kalau sekedar ingin popular, kencingilah sumur zam-zam.” Kata orang arab. Popularitas seseorang belum tentu ber...
Kabar Semesta - “Kalau sekedar ingin popular, kencingilah sumur zam-zam.” Kata orang arab.
Popularitas
seseorang belum tentu berbanding lurus dengan kesuksesan dan kebahagiaan.
Banyak cara mencari sensasi dengan cara-cara tak terpuji. Banyak yang bunuh
diri karena terpenjara oleh puja-puji. Banyak yang terhina karena hobi obral
kata obral janji-janji. Banyak orang popular mati mengenaskan terpenjara oleh
popularitasnya. Masih ingat kisah gempar sejagat atas tragedi kematian Lady
Diana bersama Doddy El Fayed. Dunia seolah tersihir dan mendung. Oknum ibu-ibu
majelis taklim di Jakarta pun taklid, ikut berkabung, memberi karangan bunga
tanda berduka. Atau kisah tragis Nike Ardilla dalam kecelakaan, yang disinyalir
akibat over dosis narkoba. Namanya dipuja, lagunya melegenda. Tapi saying,
banyak yang lupa dengan ulama kharismatik dari Djokdja, KH. AR. Fachruddin
ketua Umum PP MUhammadiyah. Beliau wafat pada hari-hari itu juga, tapi media
tak gempar memberitakannya.
Prestasi
hakiki bukanlah harta yang melimpah, bukan kedudukan yang tinggi, jabatan yang
mentereng, kekuasaan yang besar, atau berbagai atribut duniawi lainnya. Semua
itu ujian dan cobaan : maukah bersyukur? Bias jadi prestasi itu tidak dikenal
orang, taka da sanjungan, pujian apalagi karangan bunga. Kita pun tidak
menyadari itu sebagai prestasi, apabila dilakukan dengan tulus hati. Seperti
Bilal. Terompohnya terdengar di surge. Tetap saja ia istiqomah dan enjoy aja
dengan amalnya.
Juga seorang
perempuan yang rajin membersihkan masjid. Saat meninggalnya tidak dikabarkan
kepada Nabi. Ia tak dianggap karena ia perempuan biasa tanpa prestasi apa-apa.
Tetapi dimata Nabi wanita itu dihargai. Beliau minta ditunjukan kuburannya,
lalu menyolati dan mendoakannya. Prestasi sederhana tapi luar biasa, rajin dan
istiqomah membersihkan masjid.
Sumber : Zero to Hero
