Kabar Semesta - Sebut saja Ragil. Lulus SMA tahun 2002 ia pergi merantau ke Sukabumi untuk mengadu nasib di sana. Pikirnya, kerja dulu sa...
Kabar Semesta - Sebut saja Ragil. Lulus SMA tahun 2002 ia pergi merantau ke Sukabumi untuk mengadu nasib di sana. Pikirnya, kerja dulu satu tahun baru kuliah. Di Sukabumi, jualan es potong keliling ditekuninya selama kira-kira 6 bulan. Latar belakang keluarga tidak mampu mengharuskannya melakukan semua itu.
Alhamdulillah, ia diterima di Universitas Diponegoro. Kuliahnya ditempuh sambil berjualan es krim. Tiap Sabtu-Ahad, dia berangkat dari perumahan satu ke perumahan laindemi membiayai kuliah. Tidak hanya berjualan es krim, ia terus merambah bisnis lainnya. Ia membuka kafe bersama teman-temanya, berjualan kolak pisang saat Ramadhan, berternak kambing, berjualan susu, dan sempat pula mengajar privat anak-anak SMA.
Sambilan lain yang dilakukan adalah menjadi asisten laboratorium di jurusannya. Sejak semester kelima, ia mulai terlibat dalam sebuah lembaga yang biasa me-review berbagai proposal investasi di Jawa Tengah. Kuliah-kerja, kuliah-kerja sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Aktivitas inilah yang melatih mentalnya hingga banyak berhubungan dengan para pengusaha di Semarang.
Pada 2007, dia menamatkan kuliahnya. Ragil memiliki impian besar untuk membangun masyarakat desanya. Impian besar ingin melakukan pemberdayaan melalui pengembangan potensi local. Impian tersebut semakin menemui titik terang karena ia mempunya finance analyst untuk beberapa perusahaan dan proyek-proyek milyaran rupiah. Seorang yang awalnya hanya sebagai penjual es iris (potong) kini menjadi finance analyst.
Mentransmorfasi diri dari terbatas menjadi teratas bukanlah pekerjaan mudah. Namun demikian , tidak ada yang tidak mungkin. Artinya, semuanya bias dilakukan mulai dari transformasi pola piker, sikap, perilaku, dan kebiasaan.
Alhamdulillah, ia diterima di Universitas Diponegoro. Kuliahnya ditempuh sambil berjualan es krim. Tiap Sabtu-Ahad, dia berangkat dari perumahan satu ke perumahan laindemi membiayai kuliah. Tidak hanya berjualan es krim, ia terus merambah bisnis lainnya. Ia membuka kafe bersama teman-temanya, berjualan kolak pisang saat Ramadhan, berternak kambing, berjualan susu, dan sempat pula mengajar privat anak-anak SMA.
Sambilan lain yang dilakukan adalah menjadi asisten laboratorium di jurusannya. Sejak semester kelima, ia mulai terlibat dalam sebuah lembaga yang biasa me-review berbagai proposal investasi di Jawa Tengah. Kuliah-kerja, kuliah-kerja sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Aktivitas inilah yang melatih mentalnya hingga banyak berhubungan dengan para pengusaha di Semarang.
Pada 2007, dia menamatkan kuliahnya. Ragil memiliki impian besar untuk membangun masyarakat desanya. Impian besar ingin melakukan pemberdayaan melalui pengembangan potensi local. Impian tersebut semakin menemui titik terang karena ia mempunya finance analyst untuk beberapa perusahaan dan proyek-proyek milyaran rupiah. Seorang yang awalnya hanya sebagai penjual es iris (potong) kini menjadi finance analyst.
Mentransmorfasi diri dari terbatas menjadi teratas bukanlah pekerjaan mudah. Namun demikian , tidak ada yang tidak mungkin. Artinya, semuanya bias dilakukan mulai dari transformasi pola piker, sikap, perilaku, dan kebiasaan.
