Kabar Semesta - Abi Qatadah menyatakan, Nabi prnah lewat saat Abu Bakar shallat dengan melembutkan bacaan. Nabi juga lewat saat Umar ...
Kabar Semesta - Abi Qatadah menyatakan, Nabi prnah lewat saat Abu Bakar shallat dengan melembutkan bacaan. Nabi juga lewat saat Umar shalat dengan mengeraskan bacaan. Ketika keduanya bertemu dengan Nabi, beliau berkata kepada Abu Bakar: Duhai Abu Bakar,semalam lewat saat kamu shalat dengan melirihkan bacaan. Kata Abu Bakar: aku sungguh-sungguh mendengarkan (bacaanku) kepada-Nya. Nabi berkata: Duhai Umar, semalam aku lewat saat engkau mengeraskan bacaanmu. Kata Umar: Duhai Rasul, aku mengharapkan pahala saat aku membangunkan orang yang lalai. Ujar Nabi kepada Abu Bakar: Keraskan suaramu! Sabda beliau kepada Umar: Lirihkan suaramu. (HR. Baihaqi)
Dari kisah di atas, terlihat Kanjeng Nabi tidak terlalu
mempersoalkan perlunya kita mengeraskan atau melirihkan suara saat membaca
Al-Qur’an. Yang terpenting justru latar belakang alasan yang menjadi konteks
mengapa kita perlu mengeraskan atau melirihkan suara. Dari dialog yang terjadi
antara Kanjeng Nabi daengan Abu Bakar dan Umar, kita disuguhkan sebuah upaya
mengaitkan proses ritual dengan kondisi social. Bila Abu Bakar membaca
Al-Qur’an dengan lirih, dia semata-mata ingin perjumpaan dengan kekasihnya,
yakni Allah lebih terasa syahdu. Sementara Umar, memiliki pertimbangan social,
yakni agar bacaan tahajudnya di dengar Orang lain dalam kerangka menyerunya,
bukan dalam dalam konteks pamer atau riya.
Kanjeng Nabi sendiri tampak ingin mengambil jalan tengah,
yakni menganjurkan Abu Bakar agar menambah volume suaranya, dan meminta Umar mengurangi
ketinggian suaranya. Jelasnya, Kanjeng Nabi ingin menggapai kedua maksud yang
telah disampaikan Abu Bakar dan Umar, yakni bacaan sembahyang mampu memberi
fungsi kesyahduan, kekhusyukan beribadah dan bercinta dengan-Nya, sekaligus
memberikan daya dorong social.
Inilah makna penting dari bacaan yang direndahkan dan
ditinggikan dalam tahajud, yang dapat kita ejawantahkan dalam kehidupan
sehari-hari. Yakni, kita hendaknya benar-benar menciptakan ruang percintaan
yang khusyu dengan Allah, dan mengabaikan hal lain yang dapat mengganggunya.
Sisi lain, bersyik-masyuk menikmati indah cinta, lantas mengabaikan orang lain.
Sebaliknya, kita perlu mengetuk hati orang lain, menyerunya untuk ikut serta
menikmati keindahan bercinta dengan Allah.
Rendahnya suara saat tahajud mungkin menjadi kebaikan bagi
seseorang, mampu bisa jadi menimbulkan keburukan bagi orang lain saat mereka
tidak ikut serta bangun tahajud menjalin cinta dengan-Nya. Sementara, kerasnya
bacaan tahajud juga mungkin dianggap sebagai kebaikan bagi seseorang, namun itu
justru menjadi mula bencana bagi orang lain.misalnya, membaca keras-keras yang
dapat mengganggu konsentarsi oramg lain disekitarnya. Dalam hal seperti ini,
sangat penting bagi kita untuk menghitung benar-benar konteks yang sedang melingkupi
keberadaan kita.
Kanjeng Nabi sendiri pernah mengingatkan agar kita
berhati-hati dalam mengatur keras atau rendahnya suara bacaan dalam shalat yang
sekiranya dapat mengganggu orang lain.
Abu Sa’I al-Khudri
mengatakan: Nabi iktikaf di masjid, lantas medengar orang mengeraskan bacaan
ketika Nabi di salah satu tempat untuk. Beliau membuka tirai dan bersabda:
Ketahuilah, setiap orang bermunajat kepada Tuhan. Itulah sebabnya, seseorang
jangan mengganggu yang lain dan seseorang janagn mengeraskan suara menyaingi
suara yang lain dalam shalat (HR. Baihaqi)
Dalam sebuah riwayat lain di jelaskan, Kanjeng Nabi juga
pernah mengeraskan suara dalam membaca bacaan tahajud. Mu’awiyah bin Shalil
berkisah, Abdulloh bin Abi Qais pernah meriwayatkan kepadanya tentang pertanyaannya
kepada ‘Aisyah. Ia bertanya, bagaimana bacaan Rasululloh dalam tahajud? Apakah
disuarakan keras atau lirih? ‘Aisyah menjawab: Rasululloh melakukan semuanya.
Adakalanya beliau membaca keras, adakalanya membaca lirih. Abdulloh melanjutkan
: Segala syukur milik Allah yang memudahkan segala urusan, yakni boleh keras
atau lirih. Hadits tersebut diriwayatkan Baihaqi.
Lisah lain yang diriwayatkan Hakim juga menyatakan, Abu
Hurairoh shalat tahajud dengan mengeraskan bacaan tahajudnya, namun adakalanya
membaca dengan lirih. Kata Abu Huarairoh, Nabi juga melakukan hal demikian,
yakni mengeraskan dan melirihkan bacaan.
Sumber : Tahajud Energi Sejuta Mukjizat
