Kabar Semesta - Sebagai umat islam, kita sepertinya lebih suka menyibukkan diri dengan perdebatan teologis yang tercerabut dari kont...
Kabar Semesta - Sebagai umat islam, kita sepertinya lebih suka menyibukkan diri dengan perdebatan teologis yang tercerabut dari konteksnya. Misalnya masalah bilangan Rakaat. Kita sepertinya tidak pernah jemu untuk berdebat dan menentangkan masalah bilangan shalat tarawih, juga tahajud. Lebih parah lag perbedaan itu tidak berusaha nenyentuh aspek substatif yang sebenarnya lebih penting, misalnya mengaitkan upaya mengapa empat rakaat? Dengan coba merumuskan landas tumpu konteks keterlaksanaan bilangan itu, kita berusaha merangkaikan makna yang terkandung didalamnya.
Sebuah hadits menjelaskan, Rasululloh pernah melakukan shalat
dua Rakaat pendahuluan yang dilaksanakan secara cepat.
Dari
‘Aisyah berkata: “Bila hendak shalat malam (tahajud), Rasululloh biasanya
shalat pendahuluan dua rakaat singkat terlebih dahulu.” (HR.
Baihaqi).
Mengapa dua rakaat? Inilah odel ‘pemanasan’ yang ditawarkan
Allah dan Rasul-Nya. Rupanya Allah dan Rosul menawarkan cara ibadah yang tidak
menyiksa hanba-Nya. Allah dan Rosul-Nya ingin hamba-Nya menemui-Nya dengan
penuh cinta, tidak jatuh sakit gara-gara sikap menggebu tanpa perhitungan
kesehatan tubuh. Dengan melaksakan dua rakaat shalat, tampaknya Kanjeng Nabi
mengajarkan pola ‘olahraga’ yang tepat untuk pergerakan fisik kita, yakni pola
relaksasi dengan beberapa jeda. Selepas dua rakaat cepat sebagai pendahulu
tahajud, kita hendaknya berhenti dulu. Dengan demikian, kita lebih bisa
menikmati tahajud kita. Kita tidak berhenti dalam konteks mengatuk semata,
tetapi berusaha untuk memanfaatkan waktu jeda itu sebagai ruang perenungan,
ruang bercengkrama kita dengan-Nya. Selain itu, jeda juga mampu memberi
kesempatan pada tubuh kita untuk menetralisir kembali kekuatannya sehingga
pulih.
Selepas kita bekerja keras di siang hari, disusul dengan
tidur beberapa jam, melalui tahajud ini kita melakukan relaksasi yang
bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. Itulah sebabnya, mereka yang rajin tahajud
dikaruniai tubuh bsegar esok hari, pikiran yang bernas, dan langkah trengginas
untuk memburu kurnia-Nya. Waktu-waktu juga diantara dua rakaat shalat yang kita
laksanakan hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengadu, berdialog
dengan Allah atas masalah yang sedang kita hadapi, dan canangkan tekad kuat
dalam diri kita bahwa esok hari menyosong hari yang lebih cerah.
Untuk itu, Kanjeng Nabi telah membekali kita dengan doa
penting yang bias dibaca saat tahajud. Seperti disabdakan lewat hadits berikut
ini:
Dari Ubadah bin Shamit berkata: Rasululloh bersabda: “Siapa bangun di malam hari, lantas mengucapkan
Laa ilaaha illallahu hamdu wa huwa ‘alaa
kullii syaii’in qodiiru, subhaanallahu wa lakalhamdu lillahi wa laa illaha
illallahu wallahu akbaru, wa laa khaula wala quwwata illa billahi. ( Tiada
Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan segala kuasa adalah
milik-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya semata, dan tiada Tuhan melainkan
Allah.Allah Mahaagung, tiada upaya dan kekuatan kecuali atas per-tolongan-Nya.)
Lantas, beliau menutup dengan doa: Brobbigh
firlii ghufirolahu, ( Duhai Tuhan, ampuni aku), niscaya dosanya.”
Beliau juga menyatakan, “Orang tersebut lantas berdoa, doanya
pasti dikabulkan. Bila ia bertekad bangun tidur, wudhu, dan shalat tahajud,
niscayaditerima shalatnya.” (HR. Baihaqi).
Sumber : Tahajud Energi Sejuta Mukjizat
