Kabar Semesta - Berapa ayat yang harus dibaca dalam satu rakaat shalat tahajud? Menilik penjelasan hadits berikut, panjang ayat yang d...
Kabar Semesta - Berapa ayat yang harus dibaca dalam satu rakaat shalat tahajud? Menilik penjelasan hadits berikut, panjang ayat yang dibaca dalam satu rakaat adalah sekira 50 ayat! Bagi umat islam secara umum, jumlah sebanyak itu sungguh fantastis, bukan? Berikut ini hadits yang menggambarkan hal itu:
Zuhri berkata: urwah
bin Zubair mengabarkan: Aisyah bercerita, biasanya Rasululloh shalat satu
rakaat (dalam shalat itu, shalat satu rakaat lamanya sama dengan membaca lima
ouluh ayat, sebelum mengangkat kepala). Beliau shalat dua rakaat sebelum shalat
Shubuh, lalu berbaring di atas lambung kanan hingga muadzin mengumandangkan
adzan. (HR. Baihaqi).
Salah satu hal penting yang melatarbelakangi pembacaan ayat
suci Al-Qur’an dalam setiap sembahyang kita adalah makna yang terkandung dalam
ayat-ayat itu. Kandungan makna dalam ayat-ayat itu yang sesungguhnya mampu
menjadi mukjizat dan mengubah kondisi kita! Namun, belum banyak yang menganggap
perlu dan penting mengungkapkan hal itu. Akibatnya, tahajud menjadi prosesi
orang olahraga sembari komat-kamit membaca mantra, lantas kita merunduk-runduk
menunggu keajaiban dalam hidup kita. Bila demikian adanya, mukjizat itu tidak
akan menghampiri kita. Satu mukjizat yang dikandung dalam tahajud, ialah
memaknai apa yang kit abaca didalamnya.
Dalam sembahyang yang berbeda, Rasululloh biasanya membaca
ayat yang berbeda-beda pula. Ada kalnya beliau membaca alam nasrah, ada kala Al-Kafirun, Al-Takatsur, adh-Dhuha, Qulhu,
Al-Falaq, An-nas, dan sebagainya. Apa makna dari fenomena itu? Rasululloh
membaca ayat itu sangat tergantung dari kondisi psikologis dan sosiologis yang
sedang beliau alami.
Sembahyang adalah satu cara terapi psikologis untuk
menghadapi masalah psikologis dan sosiologis. Bacaan yang kit abaca dalam
setiap sembahyang, diharapkan mampu mendorong sugesti positif guna meneguhkan
langkah kita menhadapi setiap masalah yang sedang kita hadapi. Misalnya, alam nasyrah (al-insyirah). Maknanya,
kita diteguhkan hati kita dalam menghadapi kesulitan, apapun bentuknya. Karena
dalam ayat-ayat itu, kita disadarkan oleh-Nya, betapa Allah telah melapangkan
hati kita, dan meyakinkan bahwa di sebalik kesulitan selalu ada kemudahan!
Dalam ayat lain, misalnya Qulhu alias Al-Ikhlas, kita selalu
diantar oleh-Nya untuk bersikap percaya diri dalam melangkah, dalam menghadapi
siapapun dalam masalah apapun. Melalui ayat-ayat Qulhu itu kita diteguhkan, bahwa “Hanya Allah Tuhan kita”.
Maknanya, tiada yang berhak menyerukan dirinya sebagai manusia, termasuk
presidn, raja, pengusaha dan sebagainya. Allah yang Mahakuasa, Pencipta dan
Pengatur Kehidupan saja tidak berlaku semena-mena, apalagi sesame manusia
meskipun predikat kita berbeda. Kita sebagai manusia tak berhak sombong dan
arogan. Karena yang Sombong hanya Dia! Demgam membumikan ayat-ayat suci beserta
kandungannya dalam kehidupan kita, niscaya kita akan melangkah dengan teguh dan
percaya diri.
Itulah sebabnya mengapa panjang satu rakaat Rasululloh
sekira panjang bacaan ayat yang kit abaca. Yakni 50 ayat! Karena Rosululloh
tidak asal baca, tetapi beliau membaca sambil memaknai isi kandungannya,
meletakkan ayat dalam konteks sosiologis dan psilogisnya. Dengan kecerdasan
yang dianugerahkan Allah kepada beliau, Kanjeng Nabi merangkai pesan demi pesan
yang terkandung dalam ayat itu untuk menumbuhkan cara hidup progesif dan tidak
mudah putus asa. Bacaan ayat menjadi lebih fungsional bila kita kupas isi
kandungan. Lantas membumikannya dalam kehidupan social.
Sumber : Tahajud Energi Sejuta Mukjizat
