Kabar Semesta - Sungguh beruntung mereka yang rajin tahajud. Allah sang kekasih tercinta siap mengajaknya berkelana menuju lorong-loro...
Kabar Semesta - Sungguh beruntung mereka yang rajin tahajud. Allah sang kekasih tercinta siap mengajaknya berkelana menuju lorong-lorong cinta nan menggairahkan, dan menyiapkan kamar surge untuknya.
Dari ‘Abdullah bin Salam berkata : “Rasululloah telah hadir.” Kudatangi mereka, dan kuliaht wajah beliau. Saat kulihat wajah beliau, kutahu wajahnya bukan pendusta. Kali pertama kudengar adalah sabda beliau: “Duhai manusia, beri makan orang lain, sebarkanlah salam, pliharalah hubungan keluarga, dan shalatlah dimalam hari ketika manusia terlelap tidur; niscahya kalian masuk surge.” (HR. Hakim)
Dalam ajaran Islam setiap rutual memiliki dimensi social; itulah sebabnya, kesalehan ritual seharusnya berdampak kepada terwujudnya kesalehan social. Seperti disabdakan Kanjeng Nabi diatas, terdapat anjuran-anjuran yang salin terkait; memberi makan orang lain, menyebarkan salam, memelihara hubungan dengan tahajud.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membangun solidaritas sosila; salah satu bentuknya adalah memberi sesuap nasi, tetapi juga dalam bentuk lain. Misalnya, makanan untuk orang bodoh adalah ilmu pengetahuan; umat Islam bias memberinya buku untuk dibaca, meluaskan kesempatan untuk belajar memalui pendidikan formal dan nonformal, dan sebagainya. Dengan makanan ilmu pengetahuan itu umat Islam telah membangun kepedulian kepada sesame sehingga menjadi berdaya, dan mampu berkarya pula.
”Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umrunya serta baik pula amal perbuatannya.” (HR. Tirmidzi).
Dimensi social lain yang diserukan adalah menyebarkan salam. Maknanya adalah perdamaian. Mereka yang seban hari berucap salam tapi dalam hidunya menebar kebencian dan dendam, berarti belum menyelami kandungan makna salam, juga inti ajaran Islam itu sendiri. Perdamaian tidak semata bentuk “tidak berperang” tetapi juga bias ditunjukan melalui bentuk kerja sama dan gotong royong social; perdamaian tidak hanya melulu hanya diserukan layaknya slogan tetapi telah melampaui dataran wacana menuju aksi nyata yakni kebersamaan untuk mrnyrlesaikan suatu masalah yang muncul. Itulah sebabnya, mengapa Kanjeng Nabi meminta umatnya untuk menjaga hubungan dengan sesama; tersenum saat berjumpa dengan sesame pun sudah dianggap sedekah dengan ganjaran melimpah.
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. Kamu menyuruh berbuat makruf, dan mencegah yang munkar adalah sedekah. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah serta menyingkirkan batu atau duri dan tulang dijalan adalah sedekah.” (Al-Hadis).
Ditengah itu semua,tahajud akan mendampingi langkah hidup kita menuju kecerdasan social; dengan tahajud kita dapat berpikir bahwa esok harin kita akan hidup berdampingan dengan tetangga, teman kerja, juga sobat permainan. Mereka tidak hanya sewarna latarbelakangnya dengan kita tetapi berasal dari beragam corak. Lewat tahajud kita akan berpikir bahwa kehidupan social kian indah bila keragaman dapat dijaga dan dikelola, bukan dimanipulasi untuk kepentingan segelintir manusia. Tahajud juga akan mengawal kita untuk lebih peduli kepada penderitaan sesame; kemiskinan dan masyarakat kita saat ini. Mereka yang rajin tahajud, akan akan menghadirkan dalam dirinya tekad untuk mengabdi kemasyarakat dengan cara merintis berbagai kemungkinan jalan keluar mengatasi kemiskinan dan kebodohan itu.
Sumber : Tahajud Energi Sejuta Mukjizat
